Laporan Dewan Komisaris


Pemegang saham yang terhormat,

Pertama-tama, kami sampaikan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas perlindungan dan bimbingan yang diberikan kepada Perseroan selama tahun 2018 yang menantang. Tahun lalu, semua pemain industri secara keseluruhan mengalami tantangan, namun Perseroan berhasil mempertahankan posisinya sebagai maskapai berbiaya hemat terdepan.

Rp3.314,86 miliar Pendapatan Segmen Operasi Penerbangan

Mengalami tahun yang menantang, kami mengapresiasi Direksi yang tetap konsisten menjalankan langkahlangkah strategis usaha. Kami yakin bahwa posisi kuat Perseroan di industri penerbangan akan menghasilkan kinerja lebih baik dan Perseroan akan terus terbang bersama Indonesia.

Apresiasi kami sampaikan kepada Direksi yang telah bekerja keras mengatasi kesulitan-kesulitan selama tahun tersebut dan dedikasi mereka pada pelaksanan langkah strategis Perseroan dan program digitalisasi. Kami yakin, strategi yang dilaksanakan pada tahun 2018 akan memberikan landasan baik bagi keberhasilan Perseroan di masa mendatang. Dewan Komisaris sendiri, dalam lingkup mandatnya, telah memberikan arahan dan dukungan kepada Perseroan. Bersama Direksi, kami bekerja memastikan Perseroan tetap berada dalam jalur pertumbuhan.

Dalam hal kepemilikan usaha, pada 9 Oktober 2018 seluruh saham PT Rimau Multi Investama (RMI) pada PT AirAsia Indonesia Tbk (IDX: CMPP) telah selesai dialihkan kepada AirAsia Investment Limited (AAIL). Dengan berakhirnya proses ini, pemegang saham Perseroan kini terdiri dari AAIL dengan kepemilkan 49,25%, PT Fersindo Nusaperkasa (FNP) dengan kepemilikan 49,66%, dan publik dengan kepemilikan 1,09%. Langkah korporasi yang telah dijalankan adalah bagian dari visi One AirAsia yang diharapkan mampu menguatkan posisi Perseroan dalam melayani segmen penumpang komersial dan meningkatkan konektivitas di kawasan Asia.

Sekilas Perekonomian 2018

Secara global, perekonomian tahun 2018 menghadapi berbagai tantangan yang terutama disebabkan oleh situasi dan kebijakan di negara adidaya yang memiliki pengaruh signifikan terhadap negara-negara lain. Situasi ini antara lain adalah persaingan tarif impor barang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa dan Jepang yang terkoreksi.

Sebagai salah satu pasar berkembang terbesar di Asia, Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2018. Dengan PDB naik 5,17%, pertumbuhan Indonesia bahkan melampaui pertumbuhan di tingkat global sekitar 3,3%. Tingkat inflasi dalam negeri terjaga pada tingkat 3,13% dan sesuai dengan target pemerintah sebesar 3,5% ± 1%. Prioritas pemerintah pada infrastruktur dan penyederhanaan regulasi untuk meningkatkan daya saing Indonesia adalah contoh dari kunci keberhasilan pertumbuhan Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia turut dipengaruhi oleh ketidakpastian perekonomian global. Hal ini terlihat dari depresiasi mata uang sebesar 4,8% terhadap Dolar Amerika Serikat. Sebagaimana akan tampak dalam uraian berikutnya, depresiasi memiliki dampak signifikan terhadap industri penerbangan dan Perseroan secara khusus.

Menanggapi tantangan yang ada, pemerintah mengambil langkah kebijakan dengan cepat dan tegas untuk meningkatkan ketahanan perekonomian negara, namun begitu Indonesia mencatatkan tingkat ekspor dan penanaman modal asing yang moderat. Hal ini menunjukkan dampak ekonomi global yang kemungkinan akan terus terasa. Pada saat bersamaan, koordinasi baik antar-kebijakan oleh pemerintah, fundamental yang lebih sehat, dan cadangan devisa yang layak membuat Indonesia tetap tangguh dengan risiko terkait krisis keuangan yang rendah.

ANALISIS INDUSTRI DAN BISNIS

Transportasi udara di seluruh dunia tumbuh didorong oleh dunia yang semakin terglobalisasi dan hambatan perjalanan lintas negara yang semakin rendah. Bisnis multinasional dan destinasi wisata yang menarik turut meningkatkan frekuensi perjalanan ke berbagai tempat. Hal ini pada gilirannya membuka lapangan pekerjaan, turut menyumbang pada pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan pengetahuan antar manusia dari latar belakang budaya yang berbeda.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan bahwa lalu lintas penumpang udara secara global akan naik pada laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar 3,6% dalam 20 tahun ke depan. Kawasan Asia Pasifik adalah pasar yang penting bagi pertumbuhan ini, dengan CAGR regional sebesar 4,8% atau lebih tinggi dari CAGR global.

Di Asia Pasifik, Indonesia disorot sebagai pasar yang menonjol. Hal ini terutama berlaku di kawasan Asia Tenggara. Dari total 625 juta jiwa yang menghuni kawasan ini, 40% populasi berada di Indonesia—fakta ini menjadikan sektor aviasi Indonesia sebagai sektor dengan potensi investasi luar basa. Menurut BPS, pada periode Januari hingga Desember 2018, jumlah penumpang udara untuk penerbangan domestik tumbuh 5,35% menjadi 94,1 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penumpang internasional tumbuh 8,21% menjadi 18,0 juta orang dari periode yang sama pada tahun terdahulu.

Sebagai negara kepulauan, perjalanan udara secara alamiah memang menjadi kebutuhan di Indonesia agar arus barang dan jasa dapat berjalan lancar. Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia menjadikan pariwisata sebagai salah satu dari lima sektor prioritas selain infrastruktur, maritim, energi, dan pangan. Pilihan memprioritaskan infrastruktur yang erat kaitannya dengan pariwisata diyakini dapat menumbuhkan industri penerbangan dalam tahun-tahun mendatang. Saat ini pun, bandar udara dan landasan pacu tengah dibangun dan/atau diperbaiki, dan prasarana pendukung terus dikembangkan.

Lepas dari potensinya, industri penerbangan juga menghadapi tantangan—antara lain dan yang terpenting adalah isu keselamatan penerbangan yang dapat secara serius menghambat perkembangan industri. Tahun lalu, tantangan operasional terdapat pada kenaikan harga avtur. Selain itu, mengingat biaya operasional seperti sewa dan pemeliharaan pesawat dicatat dalam Dolar Amerika Serikat, depresiasi rupiah menyebabkan kenaikan beban usaha. Bencana alam sepanjang tahun 2018 juga berdampak pada industri dan kinerja Perseroan.

PENILAIAN TERHADAP KINERJA DIREKSI

Dewan Komisaris menyadari dan memahami tantangan berat yang harus dihadapi Perseroan pada tahun 2018. Kami memandang bahwa Direksi telah mengambil langkah strategis yang diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Strategi yang dijalankan sangat berperan dalam mempertahankan posisi Perseroan sebagai LCC terdepan dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan tingkat kenyamanan penumpang.

Pada tahun 2018, Perseroan fokus untuk meningkatkan pendapatan ancillary seperti pada biaya administrasi, biaya bagasi, menu makanan AirAsia ‘Santan’, pemilihan kursi, RedCargo, Fly-Thru, dan travel insurance. Dalam rangka meningkatkan layanan, Perseroan juga berinvestasi pada data, sentralisasi, dan digitalisasi. Kami juga mengapresiasi keberhasilan AirAsia Indonesia meraih akreditasi kesalamatan operasional IATA (IOSA), sebuah akreditasi yang penting bagi kredibilitas Perseroan.

Hasilnya, pendapatan ancillary tumbuh. Begitu pula dengan jumlah penumpang; Perseroan mengangkut total 5,2 juta orang sepanjang tahun 2018 atau naik 13% dari periode yang sama tahun lalu. Namun begitu, beban usaha yang tinggi akibat risiko mata uang dan kenaikan harga bahan bakar membuat Perseroan mencatatkan kerugian usaha senilai Rp987 miliar dan rugi bersih Rp907 miliar.

PANDANGAN TERHADAP PROSPEK USAHA

Lepas dari tahun yang berat, kami sepakat dengan Direksi bahwa industri penerbangan Indonesia memiliki prospek yang cerah di masa mendatang. Hal ini didukung oleh bonus demografi Indonesia, kenaikan upah yang akan mendorong pertumbuhan kelas menengah, dan minat masyarakat Indonesia secara umum untuk mendapatkan pengalaman bepergian baik di dalam maupun di luar negeri.

Perseroan akan melanjutkan inisiatif digitalisasi dan inovasi TI baru, seperti deteksi wajah dan proses otomasi dengan teknologi robotik. Rute baru yang potensial juga akan diluncurkan, selain menambah frekuensi pada rute yang sudah ada. Dalam hal ekspansi pangsa pasar, Perseroan hendak menambah tiga pesawat A320 baru sehingga akan terdapat total 27 pesawat di armada Perseroan.

KOMITMEN TERHADAP TATA KELOLA PERUSAHAAN

Kami menyadari nilai penting penerapan prinsip tata kelola usaha yang baik, yang akan memberi nilai tambah kepada semua pemangku kepentingan. Implementasi tata kelola pun dapat mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Selain itu, sebagai perusahaan publik, Perseroan berkomitmen untuk terus menyempurnakan aspek transparansi dan akuntabilitas.

Dewan Komisaris memandang bahwa tata kelola perusahaan telah dilaksanakan dengan baik oleh Perseroan. Selain menaati prinsip tata kelola, Perseroan juga telah membentuk Roadmap GCG yang mencakup struktur tata kelola dan panduan penting untuk memandu pelaksanaan tata kelola, seperti Kode Etik, Panduan Implementasi Tata Kelola, dan Panduan Direksi dan Dewan Komisaris.

Secara keseluruhan, kami mengamati dan yakin bahwa Direksi Perseroan telah melaksanakan praktik tata kelola yang baik, yang akan terus ditingkatkan guna mencapai GCG excellent di masa mendatang.

PERUBAHAN KOMPOSISI DEWAN KOMISARIS

Berdasarkan keputusan RUPS Tahunan yang diselenggarakan tanggal 24 Mei 2018, Rapat memutuskan perubahan komposisi Dewan Komisaris. Rapat menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris Perseroan yang sebelumnya Kamarudin Bin Meranun menjabat sebagai Komisaris menjadi Komisaris Utama, dan Pin Harris yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama menjadi Komisaris.

APRESIASI

Sebagai penutup, kami hendak berterima kasih kepada semua pemegang saham dan pemangku kepentingan atas dukungan mereka yang terus ditunjukkan kepada Perseroan. Kami juga berterima kasih kepada Direksi, jajaran manajemen, dan karyawan atas dedikasi dan kolaborasi yang baik. Tak lupa kami ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pelanggan setia AirAsia dan mitra usaha yang telah bersama-sama mengarungi tahun 2018. Kami percaya, Perseroan akan terus tumbuh dan terbang bersama Indonesia.

Jakarta, 30 April 2018

Atas Nama Dewan Komisaris

KAMARUDIN BIN MERANUN

Komisaris Utama