Laporan Direksi


Pemegang Saham Yang Terhormat,

Sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah terdepan, kami senantiasa berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang selama penerbangan. Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahun yang menantang bagi industri penerbangan komersial secara umum. Kondisi keuangan global masih diwarnai ketidakpastian dan beberapa daerah di Indonesia terdampak kejadian bencana besar. Di samping itu, hal yang paling berdampak pada perusahaan maskapai adalah kenaikan harga avtur dan biaya operasional. Melalui langkah-langkah strategis, kami tetap mampu mencatatkan kinerja baik untuk sebagian indikator. Pendapatan dari layanan tambahan bertumbuh dan jumlah penumpang yang memilih terbang bersama AirAsia naik menjadi 5,2 juta orang.

Rp917,91 miliar Pendapatan Segmen Ancillary dan lain-lain

Mengalami tahun yang menantang, kami mengapresiasi Direksi yang tetap konsisten menjalankan langkahlangkah strategis usaha. Kami yakin bahwa posisi kuat Perseroan di industri penerbangan akan menghasilkan kinerja lebih baik dan Perseroan akan terus terbang bersama Indonesia.

SEKILAS KONDISI PEREKONOMIAN 2018

Sebagai salah satu pasar berkembang terbesar Asia, Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2018. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,2% didukung oleh belanja dalam negeri dan investasi yang kuat. Kedua hal ini amat dipengaruhi oleh pioritas dan keberpihakan pemerintah Indonesia pada pembangunan infrastruktur. Selain itu, pemerintah juga meneruskan langkah penyederhanaan dan perampingan regulasi untuk mendorong kompetisi dan daya saing, perbaikan kualitas pendidikan, dan penyesuaian peraturan yang berlaku atas pasar tenaga kerja untuk mendukung penyerapan pekerja.

Pada sisi perekonomian secara global, ketidakpastian justru meningkat akibat “perang dagang” yang terus berlanjut. Penerapan normalisasi moneter oleh Amerika Serikat turut membawa dampak berupa arus keluar investasi dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini berakibat pada tidak hanya defisit neraca berjalan, tetapi juga tekanan pada aset, obligasi, dan mata uang Indonesia. Pada kuartal kedua tahun 2018, mata uang Rupiah terdepresiasi sebesar 4,8%, kemudian 2,7% pada bulan Juli dan Agustus. Dalam upaya menjaga kestabilan ekonomi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga 7-Days Reverse Repo Rate hingga 6 (enam) kali sejak Mei 2018.

Langkah kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia secara cepat dan tegas berhasil meningkatkan ketahanan Indonesia terhadap volatilitas pasar. Namun begitu, tingkat ekspor Indonesia yang relatif moderat dan level penanaman modal asing mengindikasikan bahwa arus keluar investasi berpotensi untuk terus berlanjut. Hal ini tentu tidak menafikan kekuatan perekonomian Indonesia yang dicapai berkat koordinasi kebijakan yang baik oleh pemerintah, fundamental yang lebih kuat, dan posisi cadangan devisi yang sehat hasilnya, risiko yang dihadapi Indonesia terkait krisis keuangan dapat dikatakan rendah.

ANALISIS INDUSTRI DAN BISNIS

Sementara itu, pada tataran industri, sektor penerbangan komersial menghadapi sejumlah tantangan pada 2018 yang berdampak pada operasi dan profitabilitas pemain usaha secara umum. Bencana alam berupa erupsi vulkanik yang terjadi beberapa kali di Bali, gempa di Lombok, dan tsunami di Palu memberikan dampak negatif yang tidak dapat dielakkan bagi industri pariwisata dan aviasi. Namun begitu, kepemimpinan pemerintah Indonesia yang dengan cepat melaksanakan langkah-langkah pemulihan di wilayah-wilayah terdampak patut diapresiasi. Kecepatan bertindak, dan bantuan yang datang dari pihak asing, memainkan peran besar dalam proses penanggulangan bencana.

Di sisi biaya, pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS dan harga avtur yang naik signifikan pada 2018 memberikan tekanan besar tidak hanya pada AirAsia, tetapi juga seluruh operator maskapai di Indonesia. Harga avtur secara rata-rata naik sekitar 32,8% dari sekitar US$64/barel pada tahun 2017 ke US$85/barel pada tahun 2018. Selain itu, mengingat sebagian besar transaksi biaya sewa dan pemeliharaan pesawat dilakukan dalam mata uang Dolar Amerika, depresiasi Rupiah pada akhirnya mengakibatkan peningkatan biaya operasional. Secara keseluruhan, menilik bahwa porsi bahan bakar dan sewa dan pemeliharaan pesawat terhadap struktur biaya operasional mencapai 70%, maka kenaikan pada aspek-aspek ini pun memengaruhi kondisi ongkos operasional yang harus ditanggung sektor penerbangan Indonesia pada 2018.

LANGKAH STRATEGIS 2018

Merespon segenap tantangan tersebut dan sejalan dengan nilai-nilai AirAsia, Perseroan melaksanakan langkah-langkah strategis yang sangat penting bagi upaya mempertahankan posisi Perseroan sebagai maskapai berbiaya terendah di dunia sekaligus memenuhi prioritas Perseroan terhadap keselamatan dan kenyamanan penumpang. Dengan dukungan low-cost carrier terbesar di Asia, Perseroan mendapat manfaat tak tertandingi dari potensi sinergi terbaik yang bisa didapatkan di kawasan ini. Model bisnis sebagai LCC telah menjadikan AirAsia sebagai pemain terdepan dunia di kelasnya dengan pertumbuhan pendapatan bersih yang kuat dan yang mampu memaksimalkan nilai untuk pemegang saham.

Untuk memantapkan posisi Perseroan sebagai LCC terbaik Indonesia yang melayani rute internasional, Perseroan untuk bertekad menguatkan kehadirannya di pasar Asia dan ASEAN. Hal ini dicapai melalui ekspansi jaringan dan frekuensi penerbangan untuk dapat lebih jauh mendominasi pasar dan hub yang ada.

Menjadi bagian dari AirAsia Group juga berarti Perseroan mendapat manfaat dalam hal proses pengadaan fasilitas dengan volume besar (bulk) untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Selain itu, sinergi dengan grup juga memudahkan implementasi berbagai inisiatif digital yang dikembangkan bersama-sama dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha Perseroan serta memberikan pengalaman yang lebih baik kepada penumpang.

Pada aspek komersial, salah satu fokus Perseroan pada tahun 2018 adalah meningkatkan target pendapatan ancillary hingga 25% melalui sejumlah saluran pendapatan seperti biaya administrasi, biaya bagasi, AirAsia ‘Santan’ (hidangan yang bisa dipesan selama penerbangan), pemilihan bangku, RedCargo, FlyThru, asuransi AirAsia Insure, serta saluran baru eCommerce Market Place, Merchandise & Duty Free di ‘Our Shop’.

Perseroan juga berupaya untuk terus berkembang memenuhi tuntutan penumpang, yaitu dengan menjadi maskapai digital terbaik di segmen LCC melalui inisiatif Data, Sentralisasi, dan Digitalisasi. Inisiatif ini tidak hanya akan memberikan layanan khusus dan tanpa kendala untuk para penumpang dengan kebutuhan yang kian berkembang otomasi pada beberapa aspek operasional dan pengintegrasian data operasional juga diharapkan bisa menghasilkan biaya yang lebih efisien.

Dalam hal kepemilikan saham, per 9 Oktober 2018 PT Rimau Multi Investama (RMI) telah secara penuh mengalihkan kepemilkan sahamnya atas PT AirAsia Indonesia Tbk (IDX: CMPP) kepada AirAsia Investment Limited (AAIL). Hal ini telah dinyatakan di dalam prospektus yang disediakan bersamaan dengan Penawaran Umum Terbatas pada 29 Desember 2017. Seiring dengan selesainya pengalihan saham, komposisi kepemilikan saham CMPP terdiri dari AAIL dengan kepemilikan saham 49,25%, PT Fersindo Nusaperkasa (FNP) dengan kepemilikan saham 49,66%, dan sisa saham 1,09% dimiliki oleh publik.

KINERJA BISNIS 2018

Pada kuartal keempat, sebanyak delapan pesawat yang sebelumnya dioperasikan oleh Indonesia AirAsia Extra (“IAAX”) telah secara penuh diserahkan kembali kepada Indonesia AirAsia (“IAA”). Penyerahan pesawat ini turut menyumbang pada perbaikan kinerja Perseoan pada kuartal keempat 2018. Pada akhir 2018, selain delapan pesawat yang diserahkan IAAX tadi, terdapat 1 pesawat yang sudah diserahkan pada bulan Juli. Secara keseluruhan, armada pesawat Perseroan pada 2018 terdiri dari 24 pesawat, dan menghasilkan kenaikan total kapasitas sebesar 16% dibanding tahun 2017.

Di sepanjang 2018, dari segi jumlah penumpang Perseroan mengangkut total 5,2 juta orang atau naik 13% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, sementara load turun sebesar 2% ke 82%.

Dari sisi pendapatan, Perseroan mengalami peningkatan sebesar 11% atau senilai Rp 4.2 Trillun dibantu dengan kenaikan jumlah penumpang, sementara pendapatan ancillary, ditunjang inisiatif penjualan yang berjalan baik dan peningkatan biaya bagasi, mencatat pertumbuhan. Namun, beban usaha naik 51%. Hal ini disebabkan utamanya oleh kenaikan bahan bakar sebesar 53% dan pengeluaran dalam mata uang Dolar Amerika untuk, antara lain, sewa dan pemeliharaan pesawat. Secara keseluruhan, Perseroan mencatatkan kerugian usaha sebesar Rp987 miliar akibat penurunan pendapatan dan biaya yang lebih tinggi, sementara kerugian bersih tercatat sebesar Rp907 miliar.

TANTANGAN YANG DIHADAPI

Sebagai negara besar kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan terletak pada daerah gempa aktif di sepanjang Samudera Pasifik, Indonesia secara khusus rawan mengalami erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Tahun 2018 menjadi tahun yang mencatatkan sejumlah kejadian bencana yang berdampak tidak hanya pada Perseroan tetapi juga seluruh negeri. Di Bali, erupsi Gunung Agung terjadi pada bulan Januari, Juni, Juli, dan Desember 2018 dengan kekuatan berbeda-beda. Pada bulan Juni, bandar udara Ngurah Rai terpaksa dihentikan kegiatannya selama satu hari akibat kegiatan gunung berapi ini. Perjalanan ribuan wisatawan terkendali dan pariwisata Bali terdampak. Pada bulan Juli dan Agustus 2018, gempa bumi merusak sebagian besar bangunan di area destinasi wisata di Lombok. Peristiwa ini mengakibatkan lebih dari 400 ribu orang mengungsi. Bencana yang dapat dikatakan terparah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah; gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo dan tsunami mengakibatkan korban jiwa lebih dari 2.000 orang. Tak hanya menimbulkan korban jiwa, bencana juga memengaruhi jumlah wisatawan asing ke Indonesia, kerugian ekonomi, dan industri penerbangan.

PANDANGAN KE DEPAN

Meskipun tahun 2018 adalah tahun yang amat menantang bagi industri penerbangan di Indonesia, namun prospek baik industri maupun pariwisata pada tahun mendatang masih sangat cerah. Presiden Joko Widodo menggarisbawahi dan menyertakan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas mengingat dampak positif yang substansial dari sektor ini terhadap perekonomian Indonesia. Dampak dimaksud, antara lain, adalah kenaikan kontribusnya terhadap PDB, lapangan kerja, dan penurunan defisit neraca berjalan serta stabilisasi nilai mata uang.

Untuk itu, salah satu poin dalam rencana strategis pemerintah adalah mengembangkan “10 Bali Baru” di seluruh Indonesia. Hal ini akan dicapai melalui pembangunan 10 bandar udara baru untuk mendukung ketersediaan infrastruktur daerah. Pemerintah juga melaksanakan kebijakan untuk menarik penanaman modal asing dan menambah jumlah negara bebas visa Indonesia untuk mendorong inisiatif ini.

Lepas dari bencana alam yang sempat menghambat sektor pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 15% menjadi 16 juta pengunjung pada 2018. Kenaikan ini didukung oleh pertumbuhan industri penerbangan dan populasi kelas menengan Indonesia, yang antara lain terlihat dari penambahan armada pesawat dan frekuensi penerbangan. Wilayah geografis Indonesia yang unik juga menambah daya saing maskapai sebagai sarana transportasi pilihan.

Selain itu, pemilihan umum legislatif dan presiden tahun 2019 juga diperkirakan akan meningkatkan jumlah penumpang transportasi udara. Secara umum, keberhasilan pelaksanaan kebijakan perekonomian pemerintah akan terus memberdayakan sektor pariwisata dan memberi efek positif pada sektor aviasi. Kami optimis dapat menghasilkan kegiatan usaha yang memberi kinerja keuntungan lebih baik pada 2019, didorong oleh tren penurunan harga bahan bakar dan Rupiah yang menguat dua faktor utama yang berperan menjaga tingkat beban usaha operator pesawat.

Untuk meningkatkan pengalaman penumpang, inisiatif digitalisasi akan dilanjutkan pada tahun 2019. Terdapat rencana inovasi TI, seperti pengenalan wajah untuk boarding dan otomasi proses menggunakan teknologi robotik. Untuk menopang penjualan, kami akan meluncurkan rute-rute baru, termasuk rute KL-Belitung, Denpasar-Labuan Bajo dan Lombok-Perth. Kami juga berencana menambah frekuensi penerbangan untuk beberapa rute yang sudah ada. Dalam hal ekspansi pangsa pasar, kami akan menambah lima pesawat, sehingga armada tipe A320 kami diharapkan mencapai 29 unit pesawat.

KOMITMEN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

Sebagaimana diuraikan di atas, semua perusahaan dan industri penerbangan secara khusus menghadapai berbagai tantangan dan risiko bisnis. Untuk dapat mengatasinya, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), konsisten, dan berkelanjuan amat penting untuk meningkatkan akuntabilitas Perseroan dan mencegah terjadi kesalahan-kesalahan besar, sekaligus mengendalikan risiko dan memastikan kepatuhan Perseroan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Pelaksanaan GCG tahun 2018 juga telah selaras dengan Roadmap GCG yang telah kami susun melalui kegiatan Perumusan, Pelaksanaan, Monitoring dan Evaluasi, yang dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan tercapainya tujuan akhir Roadmap GCG yang diharapkan, yaitu GCG Excellent. Kualitas pelaksanaan tata kelola juga akan terus ditingkatkan melalui self-assessment GCG yang akan mulai dilakukan pada tahun 2019. Evaluasi praktik GCG di keseluruhan kegiatan operasional dan nonoperasional Perseroan akan menjadi dasar bagi penyempurnaan praktik GCG secara berkesinambungan.

Kami yakin bahwa praktik tata kelola akan menghasilkan kinerja dan pelayanan yang lebih baik, sehingga menguatkan posisi Perseroan sebagai perusahaan terbuka dan pemimpin di segmen maskapai berbiaya rendah.

PERUBAHAN KOMPOSISI DIREKSI

Sepanjng tahun 2018, tidak terjadi perubahan pada komposisi Direksi Perseroan.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Kami menyadari peran vital pengembangan dan pengelolaan sumber daya manusia yang bisa beradaptasi dengan kebutuhan Perseroan dan tantangan usaha yang terus berubah. Berangkat dari kesadaran ini, kegiatan sumber daya manusia pada tahun 2018 difokuskan pada inisiatif digitalisasi bernama ‘Go Digital’, yang mendigitalisasi proses-proses kerja terkait sumber daya manusia agar berjalan lebih cepat dan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

Inisiatif ini dilaksanakan dalam dua fase: platform SDM digital diluncurkan terlebih dahulu pada 28 Juni 2018, yang mencakup manajemen SDM dan sistem absensi serta fungsi rekrutmen digital; diikuti fase kedua, yaitu peluncuran manajemen data karyawan pada November 2018.

Dalam hal pengembangan keterampilan sumber daya manusia, Perseroan melaksanakan 21 pelatihan internal termasuk pelatihan bahasa asing Inggris dan Jepang. Pelatihan-pelatihan diselenggarakan rutin dan sesuai dengan peraturan setiap departemen. Secara total, Perseroan mengeluarkan investasi sebesar Rp614,75 juta untuk pengembangan keterampilan lunak di tahun 2018. Selan itu, kami juga pastikan semua karyawan punya peluang untuk mengembangan kariernya melalui program suksesi dan promosi.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

Departemen Information, Commercial, and Technology (ICT) memainkan peran penting dalam pemanfaatan teknologi Perseroan. Memahami fungsinya, departemen ini melaksanakan langkah-langkah penting pengembangan inovasi teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan Perseroan meningkatkan efisiensi biaya, melakukan kegiatan pemasaran dan promosi, dan perbaikan proses bisnis melalui otomasi tanpa kendala. Setiap kegiatan ini senantiasa mengacu pada kebijakan pengembagan ICT.

AirAsia Indonesia adalah maskapai pertama yang menerapkan sejumlah terobosan TI, seperti tiket elektronik, aplikasi seluler untuk pemesanan tiket, pembayaran elektronik, check-in elektronik, dan kios check-in mandiri. Pada tahun 2018, kami kembali dengan dua inovasi penting yang akan memperkuat posisi Perseroan sebagai yang terdepan dalam hal teknologi di antara maskapai LCC lain di kawasan Asia. Inovasi ini mencakup: E-POS, sistem point of sales dan FACES, teknologi pengenal wajah. E-POS adalah sistem berbasis Android yang akan diluncurkan ke seluruh awak kabin IAA untuk membantu mereka menangani transaksi ancillary di atas pesawat. Sistem ini akan menggantikan point of sales manual yang digunakan pada saat ini. Dengan E-POS, transaksi menjadi lebih cepat dan ketersediaan produk lebih mudah dipantau. Data transaksi pun akan dengan mudah diunggah ke server begitu pesawat mendarat.

Di bandar udara, sistem pengenal wajah FACES diharapkan mempercepat proses check-in di konter hingga penumpang memasuki area tunggu keberangkatan. Teknologi ini mengandalkan kamera di tiga titik: konter check-in dan Kiosk, gerbang imigrasi, dan gerbang keberangkatan, sistem akan diintegrasikan dengan manifes penumpang untuk memastikan kelancaran kerja sistem dan pengelolaan data.

Pada tahun 2018, Perseroan melalui IAA telah mengintegrasikan sistemnya dengan pemangku kepentingan seperti Angkasa Pura, Angkasa Pura Solusi, Angkasa Pura Support, MCO, SITA, dan ARINC. Saat ini hanya IAA yang telah memiliki kontrak kerjasama khusus dengan APS baik di Angkasa Pura 1 (AP1) dan Angkasa Pura 2 (AP2) untuk melakukan pengelolaan layanan ruangan di seluruh ruangan yang digunakan oleh IAA. Dengan adanya pengelolaan layanan terpadu oleh Angkasa Pura, diharapkan layanan IAA kepada seluruh pelanggannya menjadi lebih baik. Sistem baru kami telah diuji pada 2018 dan diharapkan bisa beroperasi penuh pada tahun 2019.

KOMITMEN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Selain performa bisnis, Perseroan juga berkomitmen pada pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang mengacu pada empat pilar yang dibutuhkan bagi pertumbuhan berkelanjutan dan hubungan baik dengan pemangku kepentingan: tanggung jawab lingkungan, ketenagakerjaan, kemasyarakatan, dan konsumen.

Pada tahun 2018, kegiatan di bidang lingkungan mencakup kegiatan Go Green, program sterilisasi hewan liar, Hammock Amock Project, dan pembersihan pantai di Bali. Sementara itu, dalam menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja terbaik, kami memastikan semua karyawan terdaftar dalam program jaminan sosial dan kesehatan.

Sementara itu, sebagai bagian dari komitmennya pada masyarakat AirAsia segera merespon bencana alam yang terjadi pada tahun 2018 dengan program seperti ‘AirAsia Peduli Lombok’ dan #IndonesiaWithLove—inisiatif penggalangan dana di atas udara yang dilaksanakan oleh awak kabin ini mendorong solidaritas penumpang kepada korban gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala. Selain itu, Perseroan juga menjaga hubungan baik dengan konsumen melalui penyediaan mekanisme perlindungan konsumen dan penanganan keluhan.

APRESIASI

Mewakili Direksi, saya sampaikan apresiasi kepada semua pelanggan, mitra usaha, dan pemerintah serta semua pemangku kepentingan atas kesetiaan dan dukungan mereka. Dukungan semua pihak tak bisa dipisahkan dari pencapaian Perseroan selama ini.

Apresiasi tertinggi juga disampaikan kepada jajaran manajemen dan karyawan. Kerja sama dan dedikasi merekalah yang memungkinkan Perseroan terus tumbuh dan memberikan layanan terbaik pada konsumen. Segala bentuk dukungan mereka sangat bernilai bagi perjalanan Perseroan untuk menjadi perusahaan yang lebih besar dan berhasil di masa mendatang.

Terakhir, saya berterima kasih kepada pemegang saham dan Dewan Komisaris atas kepercayaan dan arahannya kepada Perseroan dalam mengatasi tantangan di 2018, dan atas kepiawaiannya menjaga ketajaman bisnis Perseroan serta kepatuhan pada prinsip-prinsip hukum.

Diiringi dukungan dari semua pemangku kepentingan, saya yakin kami mampu memberikan kinerja yang lebih baik lagi dan berkontribusi melayani masyarakat Indonesia.

Jakarta, 30 April 2018

Atas Nama Dewan Komisaris

DENDY KURNIAWAN

Direktur Utama