Laporan Dewan Komisaris


Implementasi strategi bisnis Perseroan dilakukan dengan melakukan penghentian sementara operasional penerbangan berjadwal dan secara bertahap mengoperasikan kembali penerbangan berjadwal di 9 rute domestik dan 1 rute internasional hingga akhir tahun, program promosi berlangganan berkolaborasi dengan Grup, pengembangan charter dan kargo, serta lainnya terbukti dapat meningkatkan kinerja Perseroan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dewan Komisaris berpandangan prospek bisnis Perseroan yang disusun oleh Direksi realistis dan optimis bahwa bisnis Perseroan akan semakin meningkat pada masa mendatang. Posisi AirAsia Indonesia sebagai maskapai terbaik di kelasnya juga tetap dapat dipertahankan dengan peningkatan kualitas layanan yang didukung dengan SDM profesional.

Pemegang Saham yang Terhormat,

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena AirAsia Indonesia berhasil melalui tahun 2021 yang cukup menantang sebagai dampak pandemi Covid-19 yang belum usai dengan pencapaian kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Berbagai inisiatif dan inovasi yang dijalankan oleh Direksi mampu mempertahankan posisi Perseroan sebagai maskapai terbaik di kelasnya dan bersiap untuk memanfaatkan peluang bisnis pada masa mendatang.

Sekilas Kondisi Perekonomian Tahun 2021

Kondisi perekonomian global tumbuh lebih baik di tahun 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang dari insentif fiskal dan moneter yang cukup besar yang dilakukan pemerintah di banyak negara. Selain itu, adanya pelonggaran mobilitas dan pembukaan perbatasan antar negara turut membantu pemulihan ekonomi.

World Bank mencatat pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 5,5% di tahun 2021, jauh lebih baik daripada tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 3,3%. Seiring dengan pemulihan ekonomi dunia, harga komoditas energi seperti batu bara; minyak dan gas; dan harga komoditas pangan seperti CPO dan gandum mengalami peningkatan signifikan karena tingginya permintaan di tengah keterbatasan pasokan. Kenaikan harga bahan bakar berdampak pada naiknya biaya operasional maskapai penerbangan.

Meski mulai pulih, namun perekonomian dunia masih dibayangi dengan risiko penyebaran mutasi varian virus Covid-19, peningkatan inflasi, gangguan rantai pasok, dan ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah yang berisiko mengoreksi pertumbuhan pada masa mendatang.

Perekonomian Indonesia mulai pulih dengan pertumbuhan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 3,69% di tahun 2021, lebih baik dibandingkan tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 2,07%. Sebagian besar pertumbuhan ditopang dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

Ekonomi Indonesia juga mencatat surplus neraca perdagangan karena terdampak positif dari naiknya harga komoditas energi dan pangan. Sebagai negara produsen komoditas seperti batubara, Indonesia cukup diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas di pasar global.

Seiring dengan pandemi yang mulai terkendali dan ekonomi yang pulih, pemerintah melonggarkan mobilitas individu dan membuka kembali destinasi wisata yang sebelumnya ditutup dalam rangka mengendalikan pandemi.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan BPS, jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia sebanyak 1,56 juta di tahun 2021, turun 61,57% dari tahun 2020 sebanyak 4,05 juta orang. Penurunan disebabkan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Meski secara keseluruhan turun, namun menjelang akhir tahun jumlahnya menunjukkan tren yang meningkat.

Analisis Industri dan Bisnis

Pembukaan kembali perbatasan antarnegara dan pelonggaran mobilitas yang disebabkan menurunnya jumlah kasus harian Covid-19 di tingkat global berdampak positif terhadap kinerja industri penerbangan yang di tahun 2021 lebih baik daripada tahun sebelumnya. Meski pencapaiannya belum seperti prapandemi.

International Air Transport Association (IATA) mencatat permintaan penerbangan, diukur berdasarkan revenue passenger kilometers (RPK), meningkat sebesar 79,5% secara tahunan, lebih baik dibanding tahun 2020 yang turun 65,9%. Peningkatan juga terjadi pada kapasitas, diukur berdasarkan available seat kilometers (ASK), sebesar 45,5% secara tahunan, lebih tinggi dari tahun 2020 yang turun 56,5%. Adapun passenger load factor (PLF) naik 13,7% di tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 yang turun 17,8%.

Sementara di Indonesia, industri penerbangan mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Di beberapa bandara besar seperti bandara Soekarno Hatta Jakarta, yang merupakan bandara tersibuk jumlah kedatangan penumpang meningkat pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari mulai dilonggarkannya mobilitas individu sejalan dengan cakupan vaksinasi yang meningkat dan penurunan jumlah kasus aktif Covid-19.

Selain peningkatan jumlah penumpang pesawat, bisnis kargo dan charter pesawat juga ikut meningkat. Hal ini berkaitan dengan adanya event berskala besar di Indonesia seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua dan meningkatnya penjualan barang via e-commerce yang membutuhkan sarana pengangkutan udara.

Data BPS pada tahun 2021, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh sebesar 3,24% secara tahunan dibandingkan tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 15,05%. Kontraksi di sub sektor transportasi udara semakin kecil di tahun 2021 sebesar 8,0% dari tahun sebelumnya sebesar 53,1%. Hal ini merupakan sinyal positif bagi pemulihan di sektor transportasi udara pada tahun berikutnya.

Penilaian Terhadap Kinerja Direksi

Industri penerbangan yang semula diharapkan tumbuh tinggi di tahun 2021 pada kenyataannya belum sesuai harapan. Hal ini tidak lepas dari berkembangnya mutasi varian Covid-19 seperti delta dan omicron sehingga pemerintah Indonesia sempat menutup operasional bandara sebagai upaya mengendalikan pandemi. Dalam situasi yang tidak mudah itu, Dewan Komisaris mengapresiasi upaya Direksi dalam mempertahankan kelangsungan bisnis Perseroan.

Implementasi strategi bisnis Perseroan yang fokus pada rute domestik dengan melayani 9 rute domestik dan 1 rute internasional hingga akhir tahun, program promosi berlangganan berkolaborasi dengan Grup, pengembangan charter dan kargo, serta lainnya terbukti dapat meningkatkan kinerja Perseroan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Meski Perseroan masih membukukan kerugian, namun jumlahnya semakin mengecil. Rugi bersih sebesar Rp2,34 triliun di tahun 2021, turun 15,13% dari tahun 2020 senilai Rp2,75 triliun.

Pendapatan turun sebesar 61,14% menjadi Rp626,00 miliar dari tahun sebelumnya Rp1.610,97 miliar. Penurunan ini disebabkan turunnya pendapatan penumpang yang terdiri dari penjualan kursi dan lain-lain yang merupakan pendapatan ancillary seperti bagasi, pelayanan penerbangan, jasa boga, dan ground handling. Pendapatan penumpang yang turun tidak lepas dari dampak pandemi dimana masyarakat mengurangi bepergian dengan pesawat untuk non esensial. Hal ini juga disebabkan oleh penghentian sementara/hibernasi penerbangan berjadwal yang diberlakukan saat tingginya angka kasus Covid19 di Indonesia yang juga berdampak terhadap pendapatan Perseroan.

Berbeda dengan pendapatan penumpang yang turun, bisnis kargo dan charter justru meningkat. Pendapatan dari bisnis kargo sebesar Rp75,03 miliar di tahun 2021, naik sebesar 23,23% dari tahun 2020 Rp60,89 miliar. Sementara pendapatan charter sebesar Rp70,58 miliar di tahun 2021, naik signifikan sebesar 229,86% dari tahun sebelumnya senilai Rp21,40 miliar.

Dewan Komisaris menilai Direksi telah menjalankan program efisiensi dengan baik yang ditunjukkan dengan turunnya beban usaha sebesar 48,01% dari Rp4,41 triliun di tahun 2020 menjadi Rp2,29 triliun di tahun 2021.

Dewan Komisaris juga mendukung upaya Direksi membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan melaksanakan persyaratan terbang bagi pelanggan sesuai dengan peraturan dari otoritas. Selain itu, seluruh karyawan dan kru pesawat AirAsia Indonesia juga telah melakukan vaksinasi dua tahap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pandangan Terhadap Prospek Usaha

Pemulihan ekonomi Indonesia diprediksi akan berlanjut pada tahun 2022 sejalan dengan pengendalian pandemi yang semakin baik dan meningkatnya cakupan vaksinasi. Jumlah penumpang pesawat juga diperkirakan akan meningkat sejalan bangkitnya kembali industri pariwisata. Indonesia National Air Carriers Association (INACA) optimis industri penerbangan sipil Indonesia akan tumbuh positif jika pelonggaran mobilitas dapat berlanjut.

Pemulihan industri pariwisata terlihat dari komitmen Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menargetkan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 1,8 juta sampai dengan 3,6 juta wisatawan pada tahun 2022.

Dewan Komisaris mendukung prospek usaha Perseroan yang disusun oleh Direksi dengan fokus pada rute penerbangan domestik selama border antarnegara masih belum dibuka. Peningkatan kerja sama dalam ekosistem industri pariwisata juga akan berdampak positif terhadap bisnis AirAsia Indonesia pada masa mendatang. Perluasan rute domestik seperti di Sumatera dan Kalimantan dapat meningkatkan skala bisnis Perseroan.

Sementara untuk rute-rute internasional Perseroan memprioritaskan rute yang memberi keuntungan maksimal bagi Perseroan. ASEAN Unlimited (kini SUPER+) yang menawarkan terbang ke destinasi ASEAN dan Indonesia selama setahun juga akan meningkatkan jumlah penumpang pesawat. Selain itu, optimalisasi aplikasi superapps yang menawarkan paket penerbangan dan akomodasi serta pilihan penerbangan dengan maskapai apa pun akan memberikan fleksibilitas kepada pelanggan.

Selain melayani penerbangan komersial berjadwal, Perseroan juga akan memperkuat layanan kargo dan charter yang terbukti dapat memberikan tambahan pendapatan di saat pendapatan penumpang turun. Hal ini sangat tepat karena perdagangan barang di industri e-commerce yang terus meningkat membutuhkan armada transportasi udara untuk mempercepat distribusi barang. Selain itu, usaha charter pesawat juga punya prospek baik untuk mendukung event berskala besar maupun memenuhi kebutuhan segmen tertentu.

Dewan Komisaris berpandangan prospek bisnis Perseroan yang disusun oleh Direksi tersebut realistis dan optimis bahwa bisnis Perseroan akan semakin meningkat pada masa mendatang. Posisi AirAsia Indonesia sebagai maskapai terbaik di kelasnya juga tetap dapat dipertahankan dengan peningkatan kualitas layanan yang didukung dengan SDM profesional.

Komitmen Terhadap Tata Kelola Perusahaan

Dewan Komisaris selama menjalankan tugas pengawasan atas pengelolaan usaha Perseroan oleh Direksi senantiasa mengacu pada Pedoman Dewan Komisaris (BOC Charter). Selain itu, Dewan Komisaris juga telah memberikan nasihat dan rekomendasi kepada Direksi terkait pengelolaan perusahaan termasuk pengelolaan tata kelola perusahaan yang baik di dalam Perseroan.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris dibantu oleh dua komite di bawahnya yakni Komite Audit dan Komite Nominasi dan Remunerasi. Sepanjang tahun 2021, kedua komite tersebut telah menjalankan tugasnya masing-masing dengan efisien berdasarkan prinsip Tata Kelola dan tujuan Perseroan. Penilaian ini didasarkan pada laporan berkala yang disampaikan, masukan dan rekomendasi atas hal-hal yang masuk ke dalam lingkup tugas pengawasan Dewan komisaris serta pelaksanaan tugas Komite Audit dan Komite Nominasi dan Remunerasi.

Perubahan Komposisi Dewan Komisaris

Pada tahun 2021, Perseroan mengubah susunan Dewan Komisaris sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tahun 2021. RUPSLB menyetujui pengunduran diri Bapak Pin Harris dari jabatannya selaku anggota Komisaris Perseroan. Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi Bapak Pin Harris selama bergabung di Perseroan dan selalu mendoakan yang terbaik untuk Beliau.

Apresiasi dan Penutup

Kami mengucapkan terima kasih kepada para pemegang saham yang telah memberikan kepercayaan kepada kami dalam menjalankan tugas pengawasan atas pengelolaan usaha Perseroan oleh Direksi. Kami mengungkapkan terima kasih kepada Direksi, jajaran manajemen dan seluruh karyawan yang telah bekerja keras dan fokus dalam mengatasi tantangan sehingga Perseroan tetap dapat beroperasi dengan pencapaian kinerja yang semakin baik. Tak lupa kami sampaikan apresiasi kepada pemerintah dan penumpang setia AirAsia Indonesia yang telah mendukung bisnis Perseroan. Semoga kerja sama yang telah terjalin baik selama ini dapat semakin meningkat pada masa mendatang.

Jakarta, Mei 2022

Atas nama Dewan Komisaris

KAMARUDIN BIN MERANUN

Komisaris Utama